1
1
Jambi, 15 April 2026 — Klaim keberhasilan program bantuan sosial kembali dipertanyakan. Di Parit Andin, Desa Lumahan, Kecamatan Senyerang, Kabupaten Tanjung Jabung Barat, seorang warga bernama Sabar hidup dalam kondisi yang jauh dari kata layak. Rumahnya nyaris roboh, namun bantuan pemerintah tak kunjung datang.
Bangunan tempat tinggal itu tampak rapuh: dinding lapuk, atap bocor, dan lantai seadanya. Kondisi tersebut bukan baru terjadi, melainkan sudah berlangsung lama tanpa sentuhan perbaikan. Situasi ini bukan sekadar kemiskinan—ini potret nyata kelalaian sistem. ⚠️
Lebih ironis lagi, Sabar mengaku belum pernah menerima bantuan sosial apa pun.
“Kami sangat berharap bantuan dari pemerintah. Selama ini kami belum pernah mendapatkan bantuan,” ungkapnya.
Pernyataan itu menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah. Di saat berbagai program bansos terus digembar-gemborkan, warga yang kondisinya paling mendesak justru terlewat. Lalu ke mana sebenarnya bantuan disalurkan? Apakah data kemiskinan tidak diperbarui? Atau distribusinya bermasalah?
Sebagai kepala keluarga dengan tiga anak yang masih bersekolah, Sabar harus bertahan di tengah keterbatasan. Negara yang seharusnya hadir justru terasa absen. Ini bukan lagi soal administrasi—ini soal tanggung jawab.
Rumah yang hampir roboh itu juga menyimpan ancaman keselamatan serius. Jika terjadi musibah, siapa yang akan bertanggung jawab? Pemerintah daerah tak bisa lagi berlindung di balik laporan di atas kertas.
Kasus ini mengindikasikan lemahnya verifikasi lapangan dan buruknya akurasi data penerima bantuan. Program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dan bansos yang selama ini digaungkan seolah kehilangan makna jika warga seperti Sabar tetap dibiarkan.
Masyarakat kini menunggu tindakan nyata, bukan retorika. Transparansi data, evaluasi distribusi, dan turun langsung ke lapangan harus segera dilakukan. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap program bantuan sosial akan semakin runtuh.
Kasus Sabar adalah alarm keras. Pertanyaannya sederhana: apakah Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Barat akan bertindak, atau kembali membiarkan warganya bertahan sendiri di rumah yang hampir roboh?
(Kaperwil: Apriandi)