1
1
1
2
3
Bandung – Secara bahasa: Itqan berasal dari kata atqana – yutqinu – itqānan yang berarti mengokohkan, merapikan, menyempurnakan, dan mengerjakan dengan sangat teliti hingga berkualitas tinggi.
Secara istilah syariat:
Itqan ialah melaksanakan suatu pekerjaan dengan sungguh-sungguh, profesional, cermat, dan mencapai standar mutu terbaik karena merasa diawasi Allah.
Dalil:
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang dari kalian mengerjakan suatu pekerjaan, ia mengerjakannya dengan itqan.” HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman No. 5312, dinilai hasan oleh Al-Albani
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
“Dan kamu lihat gunung-gunung, kamu kira ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti jalannya awan. Itulah perbuatan Allah yang membuat dengan itqan segala sesuatu.” QS. An-Naml:88.
Allah mencontohkan itqan pada ciptaan-Nya. Maka manusia sebagai khalifah QS. Al-Baqarah:30 wajib meneladani sifat itqan dalam memakmurkan bumi.
Penerapan Itqan bagi Tiga Pihak
Agar tugas kekhalifahan dan solusi May Day terwujud, itqan harus dijalankan oleh semua unsur hubungan industrial:
Pihak: Buruh/Pekerja
Wujud Itqan:
Bekerja sesuai SOP dan target mutu, tidak asal selesai Jujur dalam jam kerja, tidak ngaret atau korupsi waktu.
Terus meningkatkan skill dan sertifikasi Menjaga alat dan keselamatan kerja.
Contoh Praktis:
Operator mesin memastikan produk nol cacat sebelum dikirim Kurir mengantar paket tepat waktu dan barang tidak rusak Mengikuti pelatihan BNSP atau BLK.
Memakai APD lengkap.
Buah yang Dihasilkan:
Produktivitas naik, upah layak lebih mudah diperjuangkan Dipercaya perusahaan, jenjang karir terbuka Menjadi buruh profesional, bukan sekadar tenaga murah.
Pihak: Pengusaha
Wujud Itqan:
Membayar upah tepat waktu dan layak sesuai KHL. HR. Ibnu Majah No. 2443 Menyediakan lingkungan K3 yang itqan, bukan sekadar formalitas Memberi pelatihan dan jenjang karir yang jelas Transparan dalam laporan keuangan dan taat pajak.
Contoh Praktis:
Menghitung upah lembur dengan benar. Audit K3 rutin, bukan saat ada inspeksi saja.
Membuat career path dari operator ke supervisor Mendaftarkan seluruh pekerja ke BPJS Ketenagakerjaan.
Buah yang Dihasilkan: Loyalitas pekerja tinggi, turnover rendah Produk berkualitas, mampu ekspor Terhindar dari demo dan konflik.
Berkah usaha karena menunaikan hak orang lain.
Pihak: Pemerintah
Wujud Itqan:
Membuat regulasi dengan kajian itqan: berbasis data, tidak tambal sulam Pengawasan ketenagakerjaan yang itqan: adil, tidak tebang pilih, responsif. Menyediakan infrastruktur pelatihan dan jaminan sosial yang tepat sasaran. Menjadi wasit yang itqan saat terjadi perselisihan.
Contoh Praktis:
Dewan Pengupahan memakai data BPS yang akurat untuk UMP.
Pengawas ketenagakerjaan turun ke pabrik, bukan hanya di meja.
BLK dengan peralatan mutakhir, bukan alat tua.
Pengadilan PHI memutus perkara dengan cepat dan adil.
Buah yang Dihasilkan:
Iklim investasi sehat, lapangan kerja tumbuh.
Kepercayaan publik tinggi.
Angka pengangguran dan kemiskinan turun.
Tugas kekhalifahan memakmurkan bumi tercapai.
Hubungan Itqan dengan Kekhalifahan dan Hikmah Ibnu ‘Athaillah
Tugas Kekhalifahan QS. Al-Baqarah:30:
Memakmurkan bumi tidak mungkin dengan kerja asal-asalan. Allah menciptakan alam dengan itqan QS. An-Naml:88, maka khalifah wajib mengelola bumi dengan itqan. Buruh itqan menghasilkan produk unggul. Pengusaha itqan membangun perusahaan berkelanjutan. Pemerintah itqan melahirkan kebijakan yang mensejahterakan.
Hikmah Ibnu ‘Athaillah:
“Sesuatu yang tumbuh tanpa ditanam, buahnya tidak sempurna.”
Itqan adalah proses “menanam” yang benar. Buruh yang bekerja itqan sedang menanam reputasi dan keahlian. Pengusaha yang menggaji itqan sedang menanam loyalitas. Pemerintah yang membuat aturan itqan sedang menanam kepercayaan. Jika ketiganya asal-asalan, maka “buah” May Day hanya demo tahunan tanpa solusi, karena tidak ada yang ditanam dengan sungguh-sungguh.
Simpulan
Itqan adalah standar mutu ilahiah: bekerja bukan sekadar gugur kewajiban, tetapi persembahan terbaik karena Allah Maha Melihat.
Buruh yang itqan akan naik derajatnya dari tenaga menjadi aset. Ia layak menuntut hak karena kewajibannya sempurna.
Pengusaha yang itqan akan mendapat laba dunia berupa produktivitas dan laba akhirat berupa pahala menunaikan hak.
Pemerintah yang itqan akan dicintai rakyat dan diridhai Allah karena adil.
Sinergi itqan dari ketiga pihak inilah yang menjadikan May Day bukan hari keluhan, melainkan hari syukur atas hubungan industrial yang memakmurkan bumi.
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu.” QS. At-Taubah:105. Dan Allah hanya melihat pekerjaan yang dikerjakan dengan itqan.
Abud AR Sumber Dr. Rd. Dewi Rahma Sari, S.S., S.Pd., M.A.