1
1
BANDA ACEH — Peringatan 21 tahun MoU Helsinki di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Sabtu (15/8/2026), berubah menjadi situasi yang menegangkan. Momentum yang semula diisi zikir dan doa bersama justru berakhir dengan bentrokan antara massa dan aparat keamanan.
Kegiatan tersebut awalnya berlangsung dengan tertib. Massa kemudian menyampaikan sejumlah aspirasi mengenai persoalan yang dinilai belum memperoleh penyelesaian secara maksimal.
Persoalan banjir menjadi salah satu isu yang disuarakan. Massa menyebut musibah banjir telah berlangsung sekitar 10 bulan dan meminta pemerintah memberikan perhatian serta penanganan yang lebih serius.
Namun, suasana mulai berubah ketika sebagian peserta meneriakkan “Merdeka” sambil mengibarkan bendera Bulan Bintang.
DIDUGA DIPICU UPAYA MEREBUT BENDERA
Berdasarkan informasi awal yang dihimpun dari lapangan, ketegangan diduga bermula ketika seorang oknum anggota TNI masuk ke tengah kerumunan dan berupaya mengambil bendera Bulan Bintang yang sedang dibawa peserta.
Aksi tersebut memicu kemarahan massa.
Oknum aparat itu kemudian dikejar hingga keluar dari pagar kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Situasi yang sebelumnya masih terkendali pun berubah drastis.
Massa yang tersulut emosi kemudian dilaporkan menurunkan bendera Merah Putih yang terpasang di kawasan masjid dan menggantinya dengan bendera Bulan Bintang.
Ketegangan semakin meningkat ketika Wakapolda Aceh bersama rombongan yang berada di area pekarangan masjid dilaporkan didorong dan diminta keluar dari kawasan tersebut.
GAS AIR MATA DILEPASKAN, BENTROKAN TAK TERHINDARKAN
Situasi akhirnya semakin sulit dikendalikan.
Aparat keamanan kemudian mengambil langkah pengendalian massa dengan melepaskan gas air mata. Rentetan tembakan juga terdengar di lokasi dan menurut informasi awal yang dihimpun di lapangan diduga menggunakan peluru karet.
Namun, tindakan tersebut justru membuat kepanikan dan ketegangan semakin meningkat.
Massa melakukan perlawanan dengan melempar berbagai benda ke arah aparat.
Benturan antara massa dan aparat kemudian terjadi di sejumlah titik sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Kericuhan juga dilaporkan menyebabkan sejumlah kendaraan mengalami kerusakan.
Bahkan, satu unit sepeda motor yang disebut milik anggota TNI dilaporkan dibakar hingga hangus.
Tidak hanya itu, sejumlah bendera Merah Putih yang berada di sekitar kawasan masjid dilaporkan diturunkan dan dirusak, kemudian digantikan dengan bendera Bulan Bintang.
DARI MASJID RAYA, MASSA BERGERAK KE PENDOPO GUBERNUR
Situasi semakin mengkhawatirkan ketika massa kemudian bergerak menuju Pendopo Gubernur Aceh.
Setibanya di kawasan pendopo, terjadi aksi pengrusakan terhadap sejumlah bagian fasilitas.
Sejumlah bendera Merah Putih dan lambang Garuda yang berada di kawasan tersebut juga dilaporkan menjadi sasaran.
Pergerakan massa tersebut membuat pusat Kota Banda Aceh berada dalam situasi yang semakin mencekam.
SEJUMLAH ORANG TERLUKA, ADA LAPORAN SATU KORBAN MENINGGAL
Bentrokan dilaporkan mengakibatkan sejumlah orang mengalami luka-luka.
Korban disebut berasal dari pihak aparat maupun peserta aksi.
Di tengah situasi tersebut, muncul laporan awal bahwa satu orang peserta aksi meninggal dunia.
Korban disebut merupakan warga Aceh Utara.
Namun, informasi mengenai identitas korban maupun penyebab pasti kematiannya belum dapat dipastikan dan masih menunggu keterangan resmi dari pihak berwenang serta tenaga medis.
Hal ini penting untuk dipastikan agar informasi yang beredar di tengah masyarakat tidak berkembang menjadi spekulasi yang semakin memperkeruh keadaan.
MASSA BERTAHAN, SITUASI BELUM SEPENUHNYA KONDUSIF
Hingga Sabtu sore, sebagian massa masih berada di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Mereka disebut bertahan untuk menjaga bendera Bulan Bintang yang telah dikibarkan.
Sementara itu, aparat keamanan masih melakukan pengamanan di sejumlah titik untuk mencegah terjadinya bentrokan susulan.
Peringatan 21 tahun MoU Helsinki yang seharusnya menjadi momentum untuk mengingat pentingnya perdamaian Aceh justru diwarnai bentrokan dan kerusakan.
Peristiwa ini menjadi alarm bagi seluruh pihak agar tidak membiarkan ketegangan berkembang menjadi konflik yang lebih besar.
Masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi. Semua pihak diminta menahan diri dan memberikan ruang bagi aparat serta pemerintah untuk melakukan penanganan sesuai ketentuan hukum.
Tribuna Muda masih menunggu keterangan resmi terkait jumlah korban, kondisi korban yang dilaporkan meninggal dunia, kerusakan fasilitas, serta kronologi lengkap bentrokan yang terjadi di Banda Aceh.
Wartawan Aceh: Ikramullah