1
1
BEKASI — Pemerintah Kota Bekasi bersama Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane menggelar sosialisasi rencana pembangunan penurapan retensi dan pengendalian banjir di Perumahan Bumi Asih Indah RW 15, Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Taman Sawitri Eco Park tersebut membahas penanganan aliran Sungai Cikeas dan Sungai Cilengsi, termasuk pembangunan dua kolam retensi strategis yakni Kolam Koja dan Kolam Bojong Kulur sebagai upaya pengurangan risiko banjir di wilayah Jatiasih dan sekitarnya.
Acara dihadiri Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan Kota Bekasi, perwakilan BBWS Ciliwung-Cisadane, Lurah Jatirasa, Ketua RW 15 Bumi Asih Indah, Ketua FKRW, serta puluhan perwakilan warga dan pengurus RT.
Dalam pemaparannya dijelaskan bahwa wilayah Jatiasih menjadi titik pertemuan aliran dua sungai besar, yakni Sungai Cikeas dan Sungai Cilengsi. Saat curah hujan tinggi di kawasan hulu Bogor dan Puncak, debit air meningkat drastis hingga menyebabkan luapan banjir ke kawasan permukiman warga.
“Pembangunan Kolam Koja dan Kolam Bojong Kulur menjadi solusi utama untuk menahan air kiriman sementara sebelum dialirkan ke hilir, sehingga debit air yang masuk ke kawasan permukiman bisa lebih kecil dan terkendali,” ujar perwakilan BBWS dalam sosialisasi tersebut.
Adapun rincian proyek yang dipaparkan meliputi:
Kolam Retensi Koja di wilayah hulu aliran Cikeas dengan kapasitas tampung sekitar 120.000 meter kubik.
Kolam Retensi Bojong Kulur di aliran Sungai Cilengsi dengan kapasitas sekitar 180.000 meter kubik dan ditargetkan beroperasi pada 2027–2028.
Normalisasi sungai, pengerukan sedimen, serta penguatan tanggul sepanjang 7,2 kilometer di wilayah Jatirasa dan sekitarnya.
Ketua RW 15 Bumi Asih Indah, Saiful Azwar, menyambut positif langkah pemerintah tersebut. Menurutnya, warga berharap proyek pengendalian banjir itu benar-benar terealisasi dan mampu mengurangi dampak banjir tahunan yang selama ini kerap melanda kawasan mereka.
“Warga sangat mendukung selama rencana jelas dan proses pengadaan lahan berjalan baik. Kami siap membantu memfasilitasi komunikasi agar tidak ada kendala di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah juga mengingatkan pentingnya partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan saluran air dan tidak mendirikan bangunan di sempadan sungai agar fungsi kolam retensi dan aliran sungai tetap optimal.
Sosialisasi ditutup dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Warga meminta kepastian jadwal pelaksanaan proyek serta jaminan kualitas pembangunan agar dapat berfungsi dalam jangka panjang.
Rencananya, proses pembebasan lahan akan dimulai pada pertengahan 2027, sementara pembangunan konstruksi dilakukan bertahap hingga akhir 2028.
Melalui proyek tersebut, pemerintah menargetkan risiko banjir di kawasan Bumi Asih Indah dan wilayah Jatiasih dapat berkurang hingga 70–80 persen saat musim penghujan.
Abud/AR