JEMBATAN DARI BATANG KELAPA, MONUMEN KEGAGALAN NEGARA HADIR DI TENGAH RAKYAT.
Way kubu – Di saat pemerintah sibuk berbicara tentang pemerataan pembangunan, warga di lima pedukuhan Kecamatan Lemong justru dipaksa membangun sendiri jalan hidup mereka dengan batang pohon kelapa.
Inilah ironi negeri yang kerap membanggakan pembangunan infrastruktur. Di pelosok, rakyat masih mempertaruhkan nyawa setiap hari hanya untuk menyeberangi sungai.
Lebih dari 100 warga dari Dusun Talang Jaya, Bandar Pugung, Rindu Alam, Bumi Harta, Bumi Rahayu, dan Sukajadi bergotong royong membangun jembatan darurat Way Kubu menggunakan batang kelapa sepanjang sekitar 15 meter. Bukan karena ingin menciptakan objek wisata ekstrem, melainkan karena negara belum juga menghadirkan jembatan yang layak.
Dengan iuran hanya Rp3.540.000, masyarakat mampu menghadirkan akses yang kembali bisa dilalui. Nilainya kecil, tetapi kepeduliannya jauh lebih besar daripada besarnya anggaran yang selama ini dijanjikan kepada rakyat.
Jembatan itu menjadi saksi bisu bahwa gotong royong rakyat masih hidup, sementara kehadiran negara masih dipertanyakan.
Setiap pagi anak-anak TK, SD, SMP hingga SMA melintasinya demi pendidikan. Para petani membawa hasil panen melewati jembatan yang sewaktu-waktu bisa membahayakan keselamatan. Mereka bukan meminta kemewahan. Mereka hanya menuntut hak dasar sebagai warga negara: akses yang aman.
Tokoh masyarakat Ikrom menegaskan bahwa warga sudah melakukan segala yang mereka mampu, namun solusi permanen tetap menjadi kewajiban pemerintah.
Sementara tokoh pemuda Endah Pratama mengingatkan bahwa generasi muda tidak ingin terus mewarisi kelalaian pembangunan. Menurutnya, masyarakat sudah membuktikan kepedulian melalui tenaga, waktu, dan uang. Kini giliran pemerintah membuktikan keberpihakannya melalui tindakan nyata, bukan sekadar janji.
Jembatan Way Kubu kini berdiri bukan hanya sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga sebagai pengingat bahwa ketika rakyat dipaksa menyelesaikan sendiri persoalan infrastruktur yang menjadi tanggung jawab negara, ada yang tidak berjalan semestinya dalam prioritas pembangunan.
Rp3,5 juta dari kantong rakyat kecil mampu membangun jembatan darurat. Lalu ke mana arah miliaran rupiah anggaran pembangunan yang setiap tahun digelontorkan?
Rakyat sudah menunjukkan tanggung jawabnya. Kini publik menunggu pemerintah menunjukkan tanggung jawabnya.
Sebab negara yang membiarkan rakyat bertaruh nyawa di atas batang kelapa, sementara anggaran terus berjalan, akan selalu dipertanyakan keberpihakannya.
Salam Keadilan. Pena Bicara, Fakta Menyala.
Red.


